![]() |
| binguung |
terpancar pada wajah mereka yang tersorot cahaya mentari pagi, diikuti oleh barisan kelas XI dengan raut muka yang bermacam – macam, mulai dari paras Seyum yang menandakan kebanggan akan hasil mereka yang memuaskan ditahun sebelumnya atau senang karena dapat betemu dan saling menyapa kembali dengan teman atau lebih dari teman yang sudah lama tak saling menyapa, dalam barisan itu juga terlihat paras yang menekuk senyuman, menandakan kekecewaan atas hasil yang kurang bahkan tidak memuaskan atau mereka merasa malas karenaharus bertemu kembali dengan hal yang membosankan selanjutnya setelah libur panjang yang membosankan bisa saja mereka juga bosan dengan aturan dan tata tertib sekolah dan takut akan pembullyan di sekolah, dan barisan paling ujung dengan paras wajah yang sama, takut dan tegang sebab ini adalah tahun terakhir mereka menginjakan kakinya di sekolah, mereka akan segera menemui hari penentuan hasil belajar atau sering disebut kelulusan yakni kelas XII. Terlihat diantara barisan kelas XI seorang anak berdagu panjang dengan benda hitam bertali panjang menyambung pada ponselnya menempel pada kedua lubang telinganya, pada dada sebelah kanannya tertulis “ Mogi Sanjaya”. Itu semuaberbeda dengan seorang gadis yang sangat bersemangat dan sangat di kagumi disekolah berkat kecerdasan dan kerajinannya dia dijuluki siswa sempurna di sekolah, dia gadis penuh ambisi bernama...... “Hey!!! Lihat itu kak Kiran! Dia terlihat cantik dan cerdas!”. Sambil menunjuk pada seorang gadis cantik sedang membacakan do’a. “Dia sangat sempurna!”. Sambil menggenggam kedua tangannya, kagum melihat gadis pembaca do’a. “Eh Ki, kamu bilang tidak menyukai kak kiran kemarin, ada apa hah?”. Memelankan suaranya seperti membisikan sesuatu. “Euhh.. aku lihat profil nya di grup sekolah dan dia memiliki banyak perstasi dia juga cantik dan baik jadi aku sangat suka”. Tersipu malu. ...................................... Kabut asap memenuhi ruang biologi yang gelap, empat orang siswa laki – laki berkepala plontos sedang duduk bersembunyi sambil memegang sebatang benda yang menyala diujungnya dan menghasilkan asap lebat disertai abu kecil yag jatuh akibat pembakaran, bukannya mengikuti upacara bendera pertama mereka malah membolos untuk hal konyol seperti ini. “Awas! (menundukan kepala) ada yang lewat!”. Sambil menundukan kepala berambut setengah sentimeter temanya. Terlihat dari prilakunya siswa berkepala plontos ini adalah siswa yang senang melanggar peraturan, siswa yang keras, ia merupakan siswa yang mengharapkan kebebasan dan tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya, menyelesaikan masalah dengan kepalan tangan. “Ji, cepat pergi! Ada yang datang!”. teriak seorang yang tiba – tiba muncul, mereka segera pergi meninggalakan ruang biologi gelap itu. ............................. Mentari pagi berjalan menuju puncaknya, pagi tak lagi sunyi dan waktu kian berputar cepat, upacar hampir selesai dilaksanakan namun seorang siswa yanng tingginya kurang dari 160cm masih sibuk bersolek didalam kamar yang penuh dengan waker di atas meja. Ia pun pergi kesekolah dengan terburu – buru. Semua siswa mengikuti upacara bendera sementara di dalam toilet pria yang sepi Panji siswa berkepala plontos sedang mencuci wajah dan mulutnya dengan air agar tidak tercium bau asap dari tubuhnya. Suara pintu toilet terbuka terdengar jelas, keluarlah seorang siswa laki – laki tampan dengan tingkahnya yang aneh dan diikiuti oleh seorang siswi perempuan cantik berambut kepang di tepi kiri dan kanan kepalanya, mereka keluar dari salah satu bilik toilet yang sama, tentu saja panji si kepala plontos kaget melihat hal aneh tesebut, namun dia tidak mengatakan sepatah katapun karena salah satu prilakunya adalah tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya. Siswi perempuan dengan kepangannya yang khas ini adalah siswi kelas XI yang sudah tersohor akan kenakalannya namun entah apa rahasia yang dia simpan nilai semua mata pelajarnya selalu bagus dan memuaskan walaupun ia sering dijauhi dan menjadi buah bibir teman – temannya. Upacara bendera dilanjutkan dengan amanat dari kepala sekolah dengan panjang lebar, para siswa siswi mulai kelelahan mendengarkan amanat yang di sampaikan kepala sekolah, suasan dilapangan upacara mulai tidak kondusif kegaduhan mulai terjadi namun kepala sekolah menghentikannya dengan rasa kecewa, dan inti dalam amanat yang diberikan adalah “ TAATI PERATURAN SEKOLAH DAN TATA TERTIB SEKOLAH “. Guru gagah memegang tongkat panjang dan tipis namun kuat itu menerikkan kata “DIAM! TENANG!!!” sontrak semua peserta upacara diam membisu tak berdaya. Akhirnya upacara telah selesai dan ditutup oleh persembahan Drumband sekolah yang memukau. “Heh, liat deh itu Pin ( menunjuk pada seorang siswa tampan meniup saxsfon ), dia keliatan keren kalo lagi gitu!”. Celoteh siswi perempuan yang tidak mau diam. “ menurut aku sih, dia biasa aja!” jawab teman disampinya sambil tertawa bersama. “Eh Tan, kamu kan mantannya Pin ( menepak pada bahu siswi berkulit putih yang terlihat pemalu )... menurut aku sih, lebih keren Timi! Mahir banget mainin flute nya!”. Siswi berkulit putih pemalu itu hanya membalas semua pertanyaan yang diajukan padanaya dengan senyuman. Mereka pun meninggalkan lapangan upacara, terlihat Tania siswi pemalu itu menyapa siswa tampan pemain saxsfon dan menerima sapaan balasan dengan senyuman. Dalam situasi lain seorang guru wanita berambut pendek menghampiri Kiran yang berjalan bersebelahan dengan Dewi siswi baru kekanak – kanakan dan memiliki daya khayal tinggi di ikuti oleh temannya dibelakang. “ Kiran! Perkenalkan ini Dewi, dia adalah anak dari ketua perwakilan wali murid di sekolah ini, dia siswi kelas X yang masih butuh bimbingan, tolong bantu ibu ya untuk membimbingnya”. Kata guru yang terlihat bersahabat itu. “Ohh, ya bu pasti saya bantu”. Sambil menganggukan kepalanya. “ jadi kamu siswi baru disini, ambil jurusan apa?”. Tanya Kiran dengan lembut. “ IPA kak!”. Jawabnya malu. ......................... Semua orang menduduki kursinya masing – masing namun tidak dengan Tania, ia masih kebingungan akan duduk dengan siapa, didalam kelas hanya tersisa satu meja dan dua kursi, akhirnya ia duduk sendiri tepat dibelakang teman – temannya yang sebelumnya mengajak mengobrol saat upacarara berlangsung. Gemercik air terdengar lembut, dua orang siswa laki – laki tak lain Pin dan Timi sedang membersihkan alat musik mereka dengan beberapa candaan mereka. “ itu kurang bersih Pin!”. Kata Timi sambil menunjuk pada ujung peniup “ Aku kan pake alat ini sendiri, kalau infeksi, ga ada urusannya sma kamu!”. Jawab Pin sambil tertawa. Mereka tertawa bersama dan meninggalakan tempat cuci itu. ......................... “Keramaian di sekelilingku tidak menggangguku dalam sunyinya cinta kita. Berbaris kue cantik dengan berbagai macam rasa tak kuasa hati untuk memakannya, aku duduk di sebelah jendela lebar ke arah jalan raya yang dipenuhi para pejalan kaki. Saat aku meihat langkah cepat mereka, sebuah cupcake lucu berada di samping pipiku, tangan yang memegang dengan lembut cupcake lucu itu membuat diriku tersipu malu, seorang pria tampan yang selalu ada disampingku dan selalu membuat hatiku jatuh dalam cintanya. Di duduk tepat di hadapanku, aku semakin terpesona akan perlakuannya terhadapku, kami membagi satu cupcake lucu yang penuh cinta itu menjadi dua bagian yang sempurna. Kami membangun cinta kami semanis cupcake lucu itu. “Oohh... manis banget! Bagus Dew! Cerita kamu kaya beneran!”. Fujian dari kiki salah satu teman Dewi. “Hahaa.. enggak kok! Ceritanya kan Cuma fiksi aja!”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar